Serbuan pesaing dan maraknya produk berbasis teknologi menghantam bisnis PT Pos Indonesia yang masih berbasis physical delivery. Bagaimana perusahaan ini menyikapinya?
Apa jurus yang ditempuhnya?

Teknologi informasi memang bisa menjadi enabler bagi kemajuan perusahaan. Namun, di sisi lain, juga kerap membawa instabilitas terhadap bisnis satu perusahaan. Tak percaya? Lihatlah nasib PT Pos Indonesia (Posindo). Maraknya penggunaan Internet dan mobile phone — yang mendorong komunikasi lisan melalui telepon atau tertulis (e-mail dan SMS) — berdampak pada bisnis jasa pengiriman pos. Perlahan tapi pasti, laba Posindo pun ikut tergerus. Kabar mutakhir, perusahaan ini memang tak termasuk 10 BUMN dengan rugi terbesar. Namun, rapor Posindo tahun 2003 tetap merah menyala dan memprihatinkan: rugi Rp 12 miliar.
……..
……..
……..
Apa yang Semestinya Dilakukan Posindo?

Indra Susanto, Pengamat Manajemen Strategis

Agar strategy-based transformation yang dilakukan dapat mencapai tujuan secara optimal, PT Pos Indonesia perlu memperhatikan paling tidak empat enabler yang berkenaan dengan konsumen, biaya, operating model dan executional excellence. Pertama, pengetahuan dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap customer needs. Perlu dilakukan needs-based segmentation dan dibangun innovation engine yang secara sinambung dan efektif menangkap customer needs, mentransformasikan needs tersebut dalam desain produk/servis yang tangguh serta membangun value proposition yang superior.

Kedua, cost efficiency and effectiveness program yang komprehesif dengan prioritas yang tepat. Secara umum, ada empat level peluang yang dapat dioptimalkan: (1) peningkatan efisiensi dan produktivitas; (2) perbaikan kegiatan/aktivitas penunjang (systemic cost); (3) perbaikan kegiatan/aktivitas produksi (structural cost); (4) pemilihan bisnis apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak (inherent cost).

Ketiga, new operating model yang mampu menggerakkan semua roda organisasi untuk mencapai kinerja yang optimal. Ini memerlukan peninjauan ulang dan perkuatan struktural terhadap tiga dimesi organisasi yang sangat fundamental; (1) People (who decides what); (2) Knowledge (what they need to know); (3) Incentives (what’s in it for them).

Keempat, program office untuk memastikan keberhasilan pelaksanaan semua inisiatif yang dicanangkan (executional excellence). Program office umumnya dibentuk dari orang-orang pilihan yang bekerja secara full time dan diberi peran yang jelas serta wewenang yang memadai. Mereka harus dilengkapi project management tools, business problem solving tools dan keahlian manajerial yang baik. Untuk meningkatkan efektivitas kinerja, peran dan fungsi program office, sebaiknya program office ditempatkan langsung di bawah dewan direksi dan melapor serta bertanggung jawab kepada mereka.

Penulis: Firdanianty dan Tutut Handayani

(© SWA)