Jumlah karyawan yang banyak ditengarai menjadikan Unilever sebuah organisasi yang tambun. Benarkah ini menyebabkan birokrasi yang panjang? Lantas, bagaimana formulanya menjadikan SDM tetap inovatif?
……..
……..
……..
Di tempat lain, pengamat manajemen strategis Indra Susanto berkomentar, Unilever Indonesia telah memiliki organisasi yang berorientasi pada pelanggan (customer-centric organization). Misalnya, struktur penjualan dan key account disusun sesuai dengan segmen pelanggan, serta struktur logistik dan keuangan dipisahkan mengikuti channel distribusi (modern trade and general trade). Akan tetapi, struktur organisasi yang berorientasi pelanggan saja, dinilai Indra, belum cukup dan belum tentu efektif. “Perusahaan harus mampu memadukan dan mengoptimalkan semua elemen organisasi untuk mencapai tujuan perusahaan dan memenangi persaingan,” ujarnya.

Pada hakikatnya, ada dua dimensi utama yang harus dioptimalkan dan diseimbangkan Unilever Indonesia, yakni: adaptability dan alignment. Adaptability adalah kemampuan beradaptasi, melakukan respons efektif terhadap dinamika pasar, termasuk kebutuhan pelanggan dan kegiatan/strategi pesaing. Sementara alignment adalah kemampuan menyelaraskan dan mengoptimalkan semua elemen dan potensi organisasi untuk mencapai tujuan perusahaan. Adaptabilitas yang tinggi tanpa diimbangi alignment yang kuat cenderung membawa organisasi ke arah kekacauan (chaos). Sebaliknya, alignment yang kuat tanpa diimbangi adaptabilitas yang tinggi akan membawa organisasi ke arah birokratis dan otoriter. “Tantangan Unilever Indonesia adalah menyeimbangkan kedua dimensi tersebut agar lebih kompetitif,” kata Indra.

Berdasarkan pengalamannya, perusahaan consumer goods cenderung memiliki kesenjangan di tiga driver, yaitu: Customer Relationship Management (CRM); Innovation Engine; dan Learning Organization; yang ketiganya sangat diperlukan supaya unggul dalam persaingan. Oleh karena itu, Indra menyarankan Unilever Indonesia meninjau kembali efektivitas ketiga driver yang diterapkannya selama ini. Bila ketiga hal itu sudah berjalan dengan baik, pertanyaan Josef mengenai masa depan Unilever setelah 2010 dapat dijawab dengan nada optimistis. Namun bila masih terdapat kekurangan di sana-sini, sekaranglah waktunya membenahi diri.

Reportase: Tutut Handayani/Riset: Ely P. Chandra.

(© SWA)